Infantisida Singa

logika kejam gen baru saat merebut kekuasaan kelompok

Infantisida Singa
I

Pernahkah kita, saat menonton film animasi tentang singa di masa kecil, merasa bahwa padang sabana adalah tempat yang penuh keadilan? Kita tumbuh dengan cerita tentang raja hutan yang bijaksana. Ada garis keturunan yang dihormati, ada keseimbangan alam, dan anak-anak singa yang lucu akan selalu dilindungi oleh kawanannya. Namun, mari kita lupakan sejenak dongeng pengantar tidur tersebut. Jika kita melihat langsung ke alam liar, kenyataan yang terjadi jauh lebih gelap, lebih kejam, namun secara ilmiah sangat memukau. Hari ini, saya ingin mengajak teman-teman menyelami sebuah fenomena yang mungkin akan menguji rasa empati kita: saat pergantian kekuasaan, raja baru tidak datang untuk memimpin dengan damai. Ia datang untuk membantai.

II

Mari kita reka ulang adegannya. Di bawah terik matahari Afrika, sebuah kawanan singa atau pride baru saja kehilangan pemimpinnya. Pejantan dominan yang lama mungkin sudah terlalu tua, terluka, atau diusir oleh pejantan muda yang lebih kuat. Kekuasaan berganti. Pejantan baru ini masuk ke dalam kawanan dengan langkah gagah. Para betina menatap waspada. Di sudut-sudut semak, anak-anak singa dari raja terdahulu bersembunyi ketakutan. Secara intuisi manusiawi, kita mungkin berpikir pejantan baru ini akan mengadopsi mereka, atau setidaknya membiarkan mereka hidup sebagai warga kawanannya. Namun, yang terjadi selanjutnya justru menyerupai mimpi buruk. Pejantan baru ini akan mencari anak-anak singa tersebut satu per satu. Ia tidak bermaksud mengajak mereka bermain. Tanpa ragu, ia menghabisi nyawa bayi-bayi singa itu. Praktik ini dikenal dalam dunia sains sebagai infanticide atau infantisida.

III

Melihat kejadian ini, hati kita pasti memberontak. Mengapa harus sekejam itu? Bukankah tugas makhluk hidup adalah menjaga kelestarian spesiesnya? Selama berabad-abad, banyak ilmuwan dan pengamat alam yang kebingungan melihat fenomena ini. Jika evolusi bertujuan untuk melestarikan spesies singa, membunuh generasi penerus rasanya sangat tidak masuk akal. Apakah pejantan ini sekadar psikopat? Apakah ini bentuk balas dendam politik ala kerajaan kuno? Kita sering kali terjebak dengan kacamata moralitas manusia saat menilai perilaku hewan. Kita menganggap pembunuhan bayi sebagai kejahatan murni. Namun, alam semesta tidak bekerja berdasarkan hukum pidana manusia. Alam bekerja dengan logika matematika yang dingin, kalkulatif, dan tanpa ampun. Ada rahasia besar di balik kebrutalan ini, sebuah teka-teki evolusi yang menunggu untuk dipecahkan.

IV

Jawaban dari teka-teki berdarah ini terletak pada sebuah konsep biologi yang sangat terkenal: Gen Egoistis (The Selfish Gene). Teman-teman, evolusi sama sekali tidak peduli pada kelestarian "spesies" secara keseluruhan. Evolusi hanya peduli pada bagaimana gen milik satu individu bisa bertahan dan berkembang biak sebanyak mungkin. Di sinilah letak logika kejamnya. Seekor singa betina yang sedang menyusui anaknya tidak akan mengalami masa berahi atau estrus. Secara biologis, tubuhnya menunda kehamilan baru sampai anaknya mandiri. Masalahnya, masa kejayaan seekor pejantan singa sangatlah singkat, rata-rata hanya dua hingga tiga tahun sebelum ia dikalahkan pejantan lain. Pejantan baru ini tidak punya waktu! Ia tidak bisa menunggu satu atau dua tahun sampai betina selesai menyusui anak dari musuhnya. Jadi, pejantan baru menekan tombol reset. Dengan membunuh bayi-bayi tersebut, tubuh betina akan mengalami perubahan hormon secara drastis. Hanya dalam hitungan hari atau minggu, betina tersebut akan kembali memasuki masa berahi. Pejantan baru kini bisa kawin dan memastikan gennya sendirilah yang diwariskan, sebelum waktunya sebagai raja habis.

V

Bagaimana reaksi para ibu singa? Tentu saja mereka melawan secara mati-matian. Banyak betina yang terluka parah demi melindungi anak-anak mereka. Ini adalah tragedi yang memilukan. Namun pada akhirnya, setelah masa berkabung yang singkat, biologi mengambil alih. Betina-betina itu akan kawin dengan pejantan yang baru saja membunuh anak mereka. Terasa salah? Mungkin bagi kita. Tetapi memahami hal ini justru memberi kita perspektif baru yang mendalam. Alam tidaklah jahat, alam hanya bersikap netral dan sangat efisien. Saat kita mampu melepaskan kacamata moralitas manusia dan melihat alam apa adanya, kita tidak akan kehilangan empati. Sebaliknya, kita akan belajar merendah. Kita menyadari betapa kerasnya perjuangan setiap gen untuk bertahan hidup di bumi ini. Pengetahuan ini mengajak kita berpikir kritis: bahwa kebenaran ilmiah sering kali tidak nyaman, tidak romantis, namun kebenarannya selalu memiliki cerita yang jauh lebih luar biasa daripada fiksi manapun.